Previous slide
Next slide

Siti Afiah Raih Gelar Doktor di Usia 69 Tahun

Sejak berdiri tahun 2017, Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan ujian terbuka untuk pertama kalinya, pada hari Rabu (11/11) di ruang seminar gedung Pascasarjana UMS. Promovenda yang diuji kali ini adalah Siti Afiah dengan judul desertasi, “Pendidikan Islam Multikultural Berbasis Kearifan Lokal : Telaah Hidden Currilucum Pada Pondok Pesantren Nurul Huda Sragen”.

Siti Afiah menyebutkan,  dalam penelitiannya ia menggunakan pendekatan antropologi yaitu, sistem religi dan kesenian yang menghasilkan pendidikan islam multikultural di pondok Pesantren Nurul Huda Sragen berupa wayang kulit, pembelajaran filsafat jawa, pelestarian kesenian tradisional jawa dan arsitektur bangunan masjid yang berbentuk joglo.

“Implikasi Hidden Curriculum dalam softskill santri terbagi menjadi tiga, yakni keterampilan hidup mandiri, keterampilan hidup bermasyarakat dan keterampilan berperilaku unggulan,” ujar Siti Afiah.

          Perempuan yang akrab disapa bu Wiwik itu, mendapat gelar Doktor di usia 69 tahun, dengan predikat Cumlaude 3,91. Ini menjadi kado terbaik bagi dirinya, karena bersamaan dengan tanggal kelahirannya, yakni 11 November 1951. 

Selain Siti Afiah, di hari yang sama terdapat 3 mahasiswa program Doktor Pendidikan Agama Islam UMS yang dikukuhkan sebagai doktor. Ketiganya dinyatakan lulus tanpa ujian terbuka karena berhasil menulis jurnal ilmiah yang terindeks Scopus. Mereka adalah Imamul Huda dengan nilai 3,73, Meti Fatimah dengan nilai 3,91 dan Muh. Nur Rochim Maksum dengan nilai 3.91.

Direktur Sekolah Pascasarjana UMS Prof Dr Bambang Sumardjoko MPd memberikan selamat sekaligus respon positif mengenai ujian terbuka pertama bagi program studi S3, “Siti Afiah adalah lulusan pertama Doktor FAI UMS melalui jalur ujian terbuka. Akhirnya pecah telur.”

Kepala Program Studi S3 Pendiidkan Agama Islam berpesan, disertasi bukanlah karya terakhir, karena selanjutnya harus tetap produktif meneliti dan menulis agar bermanfaat untuk masyarakat. “Kalau gak begitu (aktif menulis) mending gak usah ambil S3,” ujar Prof Dr Musa Asy’arie MA.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram